TEGAL (Radar Tegal) - Sebanyak 960 siswa SMA/SMK negeri dan swasta se-Kota Tegal, dinyatakan tidak lulus dalam UjianNasional (UN) Tahun Pelajaran 2005/ 2006.
Pengumuman lulus dan tidak lulus ke-960 siswa tersebut telah diterima masing-masing siswa, Senin (19/6) secara serentak di seluruh SMA/ MA dan SMK se-Kota Tegal.Berdasarkan data Dinas Pendidikan (Dispen) Pemerintah Kota Tegal, dari jumlah keseluruhan siswa SMA/MA/SMK se-Kota Tegal yang terdaftar sebagai peserta UN sekitar 4.956, yang mengikuti UN berjumlah 4.910 siswa. Dengan kata lain, 46 siswa tidak mengikuti ujian yang dimaksud. Dari jumlah tersebut, angka kelulusan masing-masing adalah SMA negeri dan swasta berjumlah 1.792 siswa yang lulus serta 321 siswa tidak lulus, MA dengan jumlah siswa 180 orang ternyata dinyatakan lulus keseluruhannya, serta SMK negeri dan swasta berjumlah 1.978 siswa dinyatakan lulus dan 639 siswa tidak lulus UN. Demikian yang dinyatakan Kepala Kantor Informasi dan Kehumasan (Informas), Drs H Chairul Huda didampingi Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Menengah (Dikmen), Dra Titik Andarwati ketika dikonfirmasi Radar, Senin (19/6).
Dinyatakan Huda, untuk angka kelulusan SMA mengalami peningkatan, dibanding tahun pelajaran sebelumnya. “Berdasarkan data yang ada, angka kelulusan SMA/ MA negeri dan swasta se-Kota Tegal tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya angka kelulusannya 82,3 persen, tapi di tahun ini mengamali kenaikan menjadi 86,00 persen,” tandas Huda. Meski demikian, lanjutnya, kenaikan angka (prosentase) kelulusan di tingkat SMA/ MA negeri dan swasta tersebut tidak diikuti di tingkat SMK. Pasalnya, untuk SMK negeri dan swasta di tahun ini mengalami penurunan angka (prosentase) kelulusan. “Di Tahun Pelajaran 2004/ 2005 prosentase kelulusan mencapai 77,1 persen. Sedangkan untuk tahun ini, prosentase kelulusan di SMK negeri dan swasta se-Kota Tegal hanya 75,58 persen. Jadi, ada sedikit penurunan,” ujarnya.
Sementara itu pada kesempatan yang sama Kabid Dikmen Dispen Pemkot Tegal, Dra Titik Andarwati ketika dikonfirmasi terkait terjadinya penurunan angka kelulusan yang dimaksud menyatakan, hal tersebut terkait erat dengan ketentuan standar nilai kelulusan siswa. “Ini karena indikator (standar nilai kelulusan) yang dinaikkan. Untuk ujian kali ini kan 4,26 dengan nilai rata-rata 4,51. Sedangkan sebelumnya (ujian tahun pelajaran lalu) kan 4,26 atau tetap (sama), tapi kan tidak ada rata-rata. Dulu ujiannya juga dengan dua tahap, sedangkan sekarang kan hanya sekali,” ungkapnya. Sedangkan ketika didesak lebih lanjut mengenai mata pelajaran (mapel) yang dinilai siswa sulit, Titik menyatakan, ketidaklulusan siswa banyak dialami pada mapel matematika dan Bahasa Inggris.
Rupanya, untuk pelaksanaan pengumuman UN kali ini, aktivitas corat-coret seragam dan konvoi siswa berkurang, dibanding tahun sebelumnya. Hanya sebagian kecil saja siswa yang melakukan aksi ‘ritual kelulusan’ tersebut. Selebihnya, lebih memilih bergerombol di sejumlah tempat, untuk membahas hasil pengumuman yang dimaksud. “Memang kami sebelumnya telah mengeluarkan edaran guna mengantisipasi aksi corat-coret dan konvoi semacam itu. Tetapi, memang tetap ada siswa yang melakukannya. Tetapi jumlahnya lebih sedikit, jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya,” tegas Titik.
KEJAR PAKET C
Sementara itu di kabupaten Brebes, dari 5.234 siswa SMA yang mengikuti UN, tercatat 5.027 siswa yang lulus atau sebanyak 95,77 persen dan yang tidak lulus hanya 207 atau 4,23 persen. Sedangkan pada tingkat SMK, dari 2.430 siswa, yang lulus mencapai 84,57 persen atau 2.055 siswa, dengan yang tidak lulus sebanyak 375 siswa atau 15,43 persen. Sedangkan pada tingkat MA, dari 1.124 siswa yang lulus sebanyak 1.038 atau 93,90 persen dan yang tidak lulus sebanyak 86 siswa atau 6,10 persen.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Kabupaten Brebes Drs Tarsun MM saat dihubungi Radar mengatakan tingkat kelulusan siswa SMA ini lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Meski pada pelaksanaan UN kali ini tidak ada tahap II atau susulan bagi mereka yang tidak lulus. “Ini lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan ini melebihi target yang kita harapkan, yakni diatas 90 persen yang lulus,” katanya saat ditemui dikantornya, kemarin. Mereka yang tidak lulus, menurut Tarsun memiliki dua alternatif untuk menyelesaikan studinya tersebut. Yakni mengulang selama satu tahun dan mengikuti UN pada tahun depan, atau mengikuti Ujian Kejar Paket C yang akan dilaksanakan pada November mendatang. Dua alternatif tersebut, menurutnya harus dilakukan oleh siswa-siswi yang tidak lulus. Karena jika tidak memilih salah satunya maka siswa yang bersangkutan tidak akan menerima ijazah SMA. “Kejar Paket C yang paling dekat, mereka bisa mendaftar secepatnya lewat kecamatan yang terdekat. Sehingga pada bulan November bisa mengikuti Ujian Kejar Paket C, sama saja dengan UN ini,” tukasnya. Dari ratusan SMA, SMK dan MA yang ada di Kabupaten Brebes, tercatat beberapa SMA berhasil meluluskan siswanya 100 persen. Seperti SMAN 1 Bumiayu, SMAN 1 Paguyangan, SMAN 1 Salem, SMA Muhammadiyah Brebes, SMA Walisongo Ketanggungan, sejumlah MA Swasta dan SMK Swasta lainnya yang tersebar di Kabupaten Brebes. Namun sejumlah SMA favorit di Brebes, seperti SMAN 1 Brebes, SMAN 2 Brebes tidak berhasil meluluskan siswanya 100 persen. Padahal sebelumnya, hampir tidak ada sekolah yang berhasil meluluskan siswanya 100 persen dalam UN, yang nilainya minimal 4,26 dengan rata-rata minimal 4,50. Sementara itu dari pengamatan Radar seusai pengumuman yang disampaikan sekolah, melalui orang tua siswa masing-masing, siswa-siswi SMA menunggunya di depan sekolah dengan harap-harap cemas. Namun begitu dinyatakan lulus, mereka sontak melampiaskan kegembiaraannya. Sebagian melakukan sujud syukur dan lainnya melakukan aksi corat-coret seragam. (hes/riz)
kirim ke teman |
versi cetak